Kisah Sukses

JARING GUNUNG: FROM PURE INTENTION TO CALL ON ACTION

Sukahurip village is located on the western slopes of Mount Cikuray in Garut, West Java. The village is home to around 5,603 residents who mainly engage in farming and cultivation. The forests of Mount Cikuray, which are a dense protected area, are a habitat to rare species such as the Javan Eagle, the Javan Green Peafowl, and other primates such as the Javan Gibbon. However, since the reforms in 1998, farmer organizations have been engaging in massive deforestation, encroaching into the Cikuray forest territory. This has resulted in the transformation of the forest, which was once rich with towering native trees, into agricultural land using environmentally unfriendly practices.

In the early 2000s, the villages surrounding Mount Cikuray were struck by disasters, including landslides, floods, and droughts that left Sukahurip residents struggling for water during the dry season. At the same time, mountain outdoor activities on Cikuray increased in popularity, with one of the routes to the summit passing through Sukahurip. This trail, called Tapak Gerot, is managed by the village’s youth, who raised concerns about the environmental condition along the trail. To protect the remaining forest and initiate restoration efforts, including tree planting, the youth were determined to do the restoration by tree planting along the critical lands leading to the summit of Cikuray.

Planting is carried out on critical land around Post 3 Gunung Cikuray

Their dedicated efforts resulted in a partnership with the Puter Foundation through the Javan Hawk Eagle Trail Program (JHET) aimed at revitalizing the forest and restoring its healthy state while also benefiting the local community. The Jaring Gunung initiative was launched in 2017 as a local grassroots movement and recently gained increasing support and active involvement nationwide. For instance, the sixth Jaring Gunung event in 2024 was attended by 426 participants, including 88 women and 328 men.  By 2024, the initiative had successfully planted over 2,000 trees of 20 different local species along the Tapak Gerot hiking trail, with more than 50 environmental community organizations participating.

The Mountain Network initiative has three primary goals: to encourage environmental awareness through tree planting, exchange experiences and lessons on environmental issues, conservation, and restoration, especially in mountainous areas, with the younger generation of Indonesia, and introduce the Mount Cikuray hiking route through the Tapak Gerot trail.

Although the initiative is relatively new, the tree-planting efforts have yielded promising results. For instance, the once-barren and open field at Post 3 is now thriving with young local trees. Pak Yayan, from the Local forestry staff, has recognized the positive changes in forest cover following the inspiring Jaring Gunung activities.

Contribution of tree planting activities in Mount Cikuray to the SDGs

The Jaring Gunung activity also contributed to SDG 6 (Clean water and sanitation), SDG 13 (Climate Action), and SDG 15 (Life on land). Tapak Gerot, a community-based youth organization, is gaining national recognition for its commitment to sustainable development, environmental conservation, and community well-being

Desa Sukahurip terletak di lereng barat Gunung Cikuray di Garut, Jawa Barat. Desa ini adalah rumah bagi sekitar 5.603 penduduk yang sebagian besar terlibat dalam pertanian dan pertanian. Hutan Gunung Cikuray, yang merupakan area dilindungi yang padat, merupakan habitat bagi spesies langka seperti Javan Eagle, Javan Green Peafowl, dan primata lainnya seperti javan Gibbon. Namun, sejak reformasi tahun 1998, organisasi petani telah terlibat dalam deforestasi massal, menyusup ke wilayah hutan Cikuray. Hal ini telah mengakibatkan transformasi hutan, yang dulu kaya dengan pohon asli, menjadi lahan pertanian menggunakan praktik yang tidak ramah lingkungan.

Pada awal 2000-an, desa-desa di sekitar Gunung Cikuray terpengaruh oleh bencana, termasuk tanah liat, banjir, dan kekeringan yang meninggalkan penduduk Sukahurip berjuang untuk air selama musim kemarau. Pada saat yang sama, kegiatan outdoor gunung di Cikuray meningkat dalam popularitas, dengan salah satu rute ke puncak melewati Sukahurip. Jalur ini, yang disebut Tapak Gerot, dikelola oleh pemuda desa, yang menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi lingkungan di sepanjang jalur. Untuk melindungi hutan yang tersisa dan memulai upaya restorasi, termasuk penanaman pohon, para pemuda memutuskan untuk melakukan restorasi dengan menanam pohon di sepanjang tanah kritis yang mengarah ke puncak Cikuray.

Penanaman dilakukan di lahan kritis di sekitar Pos 3 Gunung Cikuray

Upaya khusus mereka menghasilkan kemitraan dengan Puter Foundation melalui Program Javan Hawk Eagle Trail (JHET) yang bertujuan untuk menghidupkan kembali hutan dan memulihkan kondisi sehatnya sambil juga menguntungkan masyarakat setempat. Inisiatif Jaring Gunung diluncurkan pada tahun 2017 sebagai gerakan dasar lokal dan baru-baru ini mendapatkan dukungan dan keterlibatan aktif di seluruh negara. Misalnya, acara Jaring Gunung keenam pada tahun 2024 dihadiri oleh 426 peserta, termasuk 88 wanita dan 328 pria. Pada tahun 2024, inisiatif ini telah berhasil menanam lebih dari 2.000 pohon dari 20 spesies lokal yang berbeda di sepanjang jalur hiking Tapak Gerot, dengan lebih dari 50 organisasi komunitas lingkungan yang berpartisipasi.

Inisiatif Jaringan Gunung memiliki tiga tujuan utama: untuk mendorong kesadaran lingkungan melalui penanaman pohon, pertukaran pengalaman dan pelajaran tentang masalah lingkungan, konservasi, dan restorasi, terutama di daerah pegunungan, dengan generasi muda Indonesia, dan memperkenalkan rute hiking Gunung Cikuray melalui jalur Tapak Gerot.

Meskipun inisiatif ini relatif baru, upaya penanaman pohon telah menghasilkan hasil yang menjanjikan. Misalnya, ladang yang dulu bercabang dan terbuka di Post 3 sekarang berkembang dengan pohon-pohon lokal muda. Pak Yayan, dari staf hutan setempat, telah mengakui perubahan positif dalam penutupan hutan setelah kegiatan Jaring Gunung yang menginspirasi.

Kontribusi kegiatan penanaman pohon di Gunung Cikuray terhadap SDG

Kegiatan Jaring Gunung juga berkontribusi pada SDG 6 (Clean water and sanitation), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 15 (Life on land). Tapak Gerot, sebuah organisasi pemuda berbasis komunitas, mendapatkan pengakuan nasional untuk komitmen untuk pembangunan berkelanjutan, konservasi lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Bagikan