Gula Kelapa Bisa Menjadi Solusi Terpuruknya Nasib Petani Kelapa Kotim

Pembuatan gula kelapa bisa menjadi solusi bagi petani kelapa di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, yang saat ini masih terpuruk akibat anjloknya harga kelapa dalam setahun terakhir.

“Pangsa pasarnya cukup besar. Kami sudah bicara dengan Unilever dan mereka siap membeli gula kelapa produksi petani di sini. Ini kesematan besar asal petani kita mau.” Kata Presiden Direktur PT Rimba Makmur Utama Dharsono Hartono di Sampit.

Dharsono baru saja menandatangani nota kesepahaman kerjasama UPT KPH mentaya tengah Seruyan Hilir terkait pengelolaan kawasan Hutan secara kolaboratif yang wilayahnya berada di sejumlah kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Komoditas yang akan dikembangkan dalam kerjasama ini adalah pengembangan dan budidaya hasil hutan bukan kayu dalam lrangka pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan dan lahan kritis, serta pengelolaan berbagai jenis tanaman seperti kelapa yang dalam meliputi pembuatan gula kelapa dan minyak kelapa, rotan, bamboo dan jambu mede.

Salah satu produk yang saat ini mulai dipasarkan adalah gula kelapa. Tanggapan pasar cukup bagus, bahkan ini ada peluang untuk memasok gula kelapa ke perusahaan besar serta peluang ekspor.

Selama ini petani gula kelapa di Kotawaringin Timur mengeluh karena harga sering anjlok saat panen kelapa melimpah. Petani hanya bisa menjual kelapa dan kopra padahal banyak yang bisa dimanfaatkan dari kelapa untuk menghasilkan nilai jual lebih tinggi.

Sekitar tiga tahun lalu Dharsono mengaku bertemu perusahaan yang salah satu produknya adalah kecap. Darisitulah dirinya baru mengetahui ternyata 80 persen komponen kecap adalah gula kelapa, sedangkan sisanya 20 persen adalah kedelai.

Sejak saat itulah perusahaan tertarik menggarap peluang produk gula kelapa. Perusahaan menggandeng petani gula kelapa di Kotawaringin Timur untuk ikut menangkap peluang ini dengan harapan hasilnya akan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan petani kelapa.

Ternyata niat itu tidak jalan mulu karena saat itu hanya tiga orang petani yang tertarik menggelutinya. Sebenarnya bisa saja perusahaan mendatangkan pekerja dari pulau jawa, namun itu tidak dilakukan karena tekad perusahaan inin memberi manfaat terhadap petani local sehingga perusahaan memilih membina petani meski secara bertahap.

Perusahaan membuat sekolah pusat pelatihan gula kelapa. Sejak saat itulah petani lainnya mulai tertarik sehingga kini jumlahnya menjadi 68 petani yang bergabung menggeluti pembuatan gula kelapa bermitra dengan perusahaan.

“Dengan pembuatan gula kelapa, kami melihat satu hectare kebun kelapa bisa menghasilkan Rp. 7 juta perbulan dan itu sudah terbukti dengan cara membuat gula kelapa setiap hari. Dibandingkan hanya mengambil kelapa maupun kopra, itu hanya mendapat sekitar Rp. 800.000” jelas Dharsono.

Petani makin memahami potensi menjanjikan dari produk gula kelapa. Dharsono menargetkan tahun ini jumlah petani yang bergabung menjadi 120 orang, bahkan nantinya bisa mencapai 2.000 orang.

Potensi kelapa di kotawaringin Timur sengat besar yang tersebar di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit dan Pulau Hanaut. Pihak perusahaan ingin memperkuat dan memberikan kapasitas yang baik kepada petani setempat.

“kalau suatu hari ada 2.000 orang yang memanjat kelapa mengolah gula kelapa dalam seharinya maka tidak mungkin lagi pasaran hanya untuk local, tetapi target kami nantinya adalah ekspor” jelas Dharsono.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kotawaringin Timur, Ichlas Semesta sangat mendukung pembangunan gula kelapa. Ini menjadi peluang baru yang harus dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.

“Potensi cukup besar. Kami Siap membantu untuk pascapanennya namun selama ini belum ada usulan melalui proposal yang disampaikan oleh kelompok tani. Kami akan membantu semaksimal mungkin” demikian Ichlas.

Sumber : https://kalteng.antaranews.com/berita/297834/gula-kelapa-bisa-jadi-solusi-terpuruknya-nasib-petani-kelapa-kotim

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram